pickagame
← Artikel

Kepribadian · 7 menit baca

Big Five vs MBTI: Mana Tes Kepribadian yang Lebih Akurat?

MBTI lagi rame di media sosial, tapi psikolog lebih sering memakai Big Five. Ini perbedaan keduanya, kenapa hasil MBTI bisa berubah kalau tes ulang, dan cara memakai tes kepribadian tanpa salah kaprah.

Di artikel ini

Dari bio Instagram sampai idol K-pop: demam MBTI

Coba buka bio media sosial anak muda sekarang. Selain zodiak, sering ada empat huruf seperti INFJ, ENFP, atau ISTJ. Idol K-pop memamerkan tipe MBTI mereka di acara variety show, aplikasi kencan memakainya untuk mencocokkan pasangan, dan video TikTok "tipe MBTI kalau lagi marah" ditonton jutaan kali. MBTI sudah jadi bahasa pergaulan.

Di sisi lain, kalau kamu membaca jurnal psikologi, hampir tidak ada penelitian kepribadian serius yang memakai MBTI. Yang dipakai adalah model lain bernama Big Five, atau lima besar sifat kepribadian. Kenapa bisa begitu? Apakah MBTI salah? Apakah Big Five lebih benar? Jawabannya lebih menarik daripada sekadar "yang satu bagus, yang satu jelek".

Kalau ingin langsung mencoba, kamu bisa mengerjakan tes Big Five di pickagame dalam sekitar lima menit, gratis dan tanpa daftar.

Apa itu MBTI?

MBTI (Myers-Briggs Type Indicator) dikembangkan oleh Katharine Cook Briggs dan putrinya, Isabel Briggs Myers, mulai tahun 1940-an. Keduanya bukan psikolog akademis; mereka terinspirasi dari buku Carl Jung tentang tipe psikologis yang terbit pada 1921. Tujuan awalnya mulia: membantu orang memahami perbedaan dan menemukan pekerjaan yang cocok.

MBTI membagi kepribadian ke dalam empat pasangan pilihan, dan gabungan keempatnya menghasilkan 16 tipe:

  • E atau I: Extraversion (energi dari luar) atau Introversion (energi dari dalam).
  • S atau N: Sensing (fokus fakta konkret) atau Intuition (fokus pola dan kemungkinan).
  • T atau F: Thinking (memutuskan dengan logika) atau Feeling (memutuskan dengan nilai dan perasaan).
  • J atau P: Judging (suka rencana dan kepastian) atau Perceiving (suka fleksibel dan spontan).

Apa itu Big Five?

Big Five tidak dirancang dari teori, tapi ditemukan dari data. Para peneliti mengumpulkan ribuan kata sifat yang dipakai manusia untuk menggambarkan orang lain, lalu memakai statistik untuk melihat kata mana yang sering muncul bersamaan. Hasilnya, kata-kata itu mengelompok menjadi lima dimensi besar yang terus muncul di berbagai bahasa dan budaya. Penjelasan lengkapnya ada di artikel Big Five itu ngukur apa.

  • Openness (keterbukaan): rasa ingin tahu, imajinasi, suka hal baru.
  • Conscientiousness (kehati-hatian): teratur, disiplin, bisa diandalkan.
  • Extraversion (ekstraversi): suka keramaian, banyak bicara, berenergi di sekitar orang.
  • Agreeableness (keramahan): hangat, kooperatif, mudah percaya.
  • Neuroticism atau kestabilan emosi: seberapa mudah merasa cemas, sedih, atau tertekan.

Perbedaan paling penting: kotak lawan skala

Perbedaan terbesar antara keduanya bukan soal jumlah huruf, tapi cara mengukur. MBTI memasukkan kamu ke dalam kotak: kamu E atau I, tidak ada di tengah. Big Five menaruh kamu di sebuah skala: misalnya ekstraversimu di persentil 55, sedikit di atas rata-rata.

Masalahnya, kebanyakan manusia justru berada di tengah. Kalau kamu menggambar grafik skor ekstraversi dari ribuan orang, bentuknya seperti lonceng: sedikit orang di ujung, sangat banyak orang di tengah. Ketika MBTI memotong lonceng itu tepat di tengah, orang yang skornya 49 disebut introvert dan orang yang skornya 51 disebut ekstrovert, padahal keduanya hampir identik. Dua orang yang sangat mirip bisa mendapat label yang berlawanan.

Big Five tidak punya masalah itu karena memang tidak memotong. Skor 49 dan 51 terbaca sebagai hampir sama, dan memang begitu kenyataannya.

Kenapa hasil MBTI bisa berubah kalau tes ulang?

Banyak orang mengalami ini: tahun lalu hasil tesnya INFP, sekarang ENFP. Apakah kepribadianmu berubah? Kemungkinan besar tidak. Penelitian tentang konsistensi MBTI menemukan bahwa dalam tes ulang dengan jarak beberapa minggu, sebagian besar orang mendapat setidaknya satu huruf yang berbeda. Angkanya bervariasi antar-penelitian, tapi sering disebut antara sepertiga sampai lebih dari separuh peserta.

Penyebabnya adalah masalah kotak tadi. Kalau skor ekstraversimu memang di tengah, perubahan suasana hati yang kecil saja, misalnya habis minggu yang melelahkan, sudah cukup membuatmu melompat dari E ke I. Kepribadianmu tidak berubah; yang berubah hanya sisi garis mana yang kebetulan kamu injak hari itu.

Big Five juga bisa sedikit bergeser mengikuti suasana hati, tapi karena hasilnya berupa skala, pergeseran kecil tetap terbaca kecil. Tidak ada lompatan dramatis dari satu tipe ke tipe lain.

Mana yang lebih akurat?

Kalau yang dimaksud akurat adalah konsisten dan bisa memprediksi sesuatu di dunia nyata, Big Five jelas lebih unggul, dan itulah alasan psikolog memakainya. Skor kehati-hatian, misalnya, secara konsisten berkaitan dengan prestasi kerja dan akademik. Skor kestabilan emosi berkaitan dengan kesejahteraan. Hubungan-hubungan ini sudah diuji dalam ribuan penelitian.

Menariknya, empat dimensi MBTI sebenarnya tumpang tindih dengan Big Five. E/I sangat mirip dengan ekstraversi, S/N berkaitan dengan keterbukaan, T/F berkaitan dengan keramahan, dan J/P berkaitan dengan kehati-hatian. Yang tidak ada di MBTI resmi adalah dimensi kestabilan emosi, padahal ini salah satu dimensi yang paling berpengaruh dalam hidup sehari-hari.

Jadi MBTI bukan sepenuhnya salah. Ia menangkap sebagian besar hal yang sama, hanya dengan alat ukur yang lebih kasar: kotak, bukan penggaris.

Contoh: dua orang dengan tipe yang sama

Bayangkan dua teman kantor, Rina dan Dimas, yang sama-sama mendapat hasil ENFP. Di atas kertas mereka "tipe yang sama". Tapi kalau dilihat dengan Big Five, gambarnya berbeda. Ekstraversi Rina berada di persentil 90, sedangkan Dimas hanya di persentil 52, nyaris di tengah. Rina benar-benar mendapat energi dari keramaian, sementara Dimas bisa menikmati pesta tapi butuh waktu sendiri keesokan harinya.

Perbedaan lain muncul di kestabilan emosi, dimensi yang tidak ada di MBTI resmi. Rina tenang menghadapi tenggat mendadak, sedangkan Dimas mudah cemas. Dua orang dengan label yang sama bisa bereaksi sangat berbeda terhadap situasi yang sama, dan Big Five bisa menjelaskan perbedaan itu, sedangkan MBTI tidak.

Contoh ini bukan untuk mengatakan MBTI tidak berguna, tapi untuk menunjukkan bahwa empat huruf menyimpan jauh lebih sedikit informasi daripada lima skala. Kalau kamu ingin mengenal diri dengan lebih rinci, skala memberikan gambaran yang lebih tajam.

Lalu kenapa MBTI tetap populer?

Karena MBTI sangat enak dipakai sebagai bahasa pergaulan. Empat huruf mudah diingat, mudah ditulis di bio, dan mudah dijadikan identitas. "Aku INFJ" terdengar lebih menarik daripada "keterbukaanku di persentil 78". Tipe juga membuat orang merasa punya komunitas: ada meme, ada fandom, ada rasa "ternyata ada yang kayak aku".

Itu bukan hal buruk. Kalau MBTI membuat orang lebih penasaran dengan dirinya sendiri dan lebih memahami bahwa orang lain berbeda, itu manfaat yang nyata. Masalah baru muncul saat tipe dipakai untuk keputusan serius, misalnya menolak pelamar kerja atau memutuskan hubungan karena "tipenya nggak cocok".

Bagaimana dengan 16Personalities?

Banyak orang mengira tes di situs 16Personalities adalah MBTI resmi, padahal bukan. Situs itu memakai nama tipe empat huruf yang mirip, tapi model di baliknya sendiri, dan menambahkan huruf kelima: A (Assertive) atau T (Turbulent). Dimensi tambahan ini sangat mirip dengan kestabilan emosi di Big Five, jadi bisa dibilang 16Personalities adalah campuran antara bahasa MBTI dan pendekatan sifat ala Big Five.

MBTI resmi sendiri adalah tes berbayar yang biasanya dikerjakan bersama konsultan bersertifikat. Jadi kalau hasilmu berasal dari tes gratis online, kemungkinan besar itu bukan MBTI resmi, meskipun nama tipenya sama.

Tes kepribadian di dunia kerja

Banyak perusahaan memakai tes kepribadian dalam pelatihan tim, dan beberapa juga dalam rekrutmen. Untuk pelatihan dan membangun komunikasi tim, tes seperti MBTI bisa jadi bahan obrolan yang berguna: rekan kerja jadi paham kenapa ada yang suka rapat panjang dan ada yang lebih suka pesan singkat.

Untuk rekrutmen, penggunaannya jauh lebih sensitif. Pengembang MBTI sendiri menyatakan bahwa tes itu tidak dirancang untuk seleksi karyawan. Kalau perusahaan memakai tes kepribadian untuk seleksi, alat yang dipakai seharusnya sudah divalidasi untuk tujuan itu, dan hasilnya hanya menjadi salah satu pertimbangan, bukan penentu tunggal.

Cara memakai tes kepribadian dengan bijak

Apa pun tes yang kamu pakai, beberapa prinsip ini membantu mendapatkan manfaat tanpa terjebak salah kaprah:

  • Anggap hasilnya sebagai cermin, bukan vonis. Tes membantu kamu memperhatikan kebiasaan, bukan menentukan siapa kamu.
  • Cari kalimat yang bikin sedikit tidak nyaman. Deskripsi yang hanya memuji tidak mengajarkan apa-apa.
  • Kerjakan saat suasana hati netral. Hasil tes yang dikerjakan setelah hari buruk cenderung lebih muram.
  • Jangan pakai tes online untuk keputusan besar. Tes singkat tidak dibuat untuk seleksi kerja atau diagnosis.
  • Lihat pola, bukan angka tunggal. Kombinasi sifat lebih informatif daripada satu dimensi yang berdiri sendiri.

Coba sendiri

Cara terbaik memahami perbedaan kedua model adalah dengan mencobanya. Kerjakan tes Big Five, lalu bandingkan dengan hasil MBTI yang mungkin sudah kamu tahu. Perhatikan apakah dimensi yang kamu anggap "di tengah" memang terbaca di tengah.

Kalau ingin melihat sisi lain dari dirimu, coba juga tes gaya mengambil keputusan, yang melihat bagaimana kamu menimbang pilihan saat harus cepat memutuskan. Dan kalau kamu tertarik dengan cara otak kita bekerja, baca kenapa kita melihat pola yang sebenarnya tidak ada. Kecenderungan itu juga yang membuat deskripsi kepribadian yang samar sering terasa "aku banget".

Pertanyaan yang sering muncul

Apakah MBTI akurat?

MBTI menangkap sebagian dimensi kepribadian yang nyata, tapi karena memakai kotak, bukan skala, hasilnya sering berubah saat tes ulang, terutama bagi orang yang skornya di tengah.

Apa bedanya Big Five dan MBTI?

MBTI memasukkan orang ke 16 tipe berdasarkan empat pasangan pilihan. Big Five mengukur lima sifat sebagai skala, termasuk kestabilan emosi yang tidak ada di MBTI resmi.

Kenapa hasil MBTI saya berubah?

Kemungkinan besar skor kamu di salah satu dimensi berada dekat garis tengah, sehingga perubahan suasana hati kecil sudah cukup untuk berpindah huruf.

Tes kepribadian mana yang dipakai psikolog?

Dalam penelitian, model yang paling banyak dipakai adalah Big Five, karena hasilnya konsisten dan terbukti berkaitan dengan banyak hal di kehidupan nyata.

Di mana bisa tes Big Five gratis?

Kamu bisa mengerjakan tes Big Five di pickagame secara gratis dalam sekitar lima menit, tanpa daftar akun.

Mainkan yang terkait

Baca juga