Artikel · 5 min
Cara Beneran Bikin Ngetik Kamu Lebih Cepat
Kebanyakan orang mentok di titik yang sama karena alasan yang sama, dan itu bukan soal kecepatan jari. Ini yang ngangkat angkanya, dan yang nggak.
Angkanya itu sebenarnya apa
Kata per menit itu nggak dihitung per kata. Standarnya, satu kata dihitung lima karakter termasuk spasi — jadi "aku mau makan" itu sekitar 2,8 kata, bukan 3. Dihitung begitu karena panjang kata beda-beda, dan kalau dihitung harfiah, teks yang isinya kata pendek bakal kelihatan lebih cepat padahal usahanya sama.
Cuma karakter yang benar yang dihitung. Ini lebih penting dari kedengarannya: pas ngebut, kecepatan tekan tombol kebanyakan orang jauh lebih tinggi dari skornya, dan seluruh selisihnya itu perbaikan salah ketik.
Mentok di angka empat puluh
Hampir semua orang yang rutin ngetik berhenti di kisaran 35 sampai 50 kata per menit, dan bertahan di situ bertahun-tahun. Alasannya, sekitar empat puluh itu titik di mana kamu berhenti dibatasi "hafal letak tombol" dan mulai dibatasi "cara pindah antar tombol".
Di bawah empat puluh, obatnya hampir selalu sama: berhenti nunduk. Seminggu pertama kerasa lebih lambat, habis itu permanen lebih cepat — soalnya tiap kali ngelirik keyboard, kamu bayar ongkos nyari posisi tangan lagi dari awal.
Di atas empat puluh, nunduk udah bukan masalahnya, dan latihan lebih banyak dengan cara yang sama nyaris nggak ngefek. Kenaikannya datang dari tempat lain.
Yang ngangkat angkanya setelah itu
Akurasi, bukan kecepatan. Satu typo itu ongkosnya: tombolnya sendiri, backspace, ngetik ulang, plus setengah detik buat nyadar — anggaplah empat ketukan buat satu kesalahan. Ngetik lima persen lebih pelan dengan separuh kesalahan hampir selalu untung, dan rasanya salah terus selama kamu ngelakuinnya.
Yang kedua, ngetik per potongan. Orang yang cepat nggak ngetik "d-a-n", tapi "dan" sebagai satu gerakan, gitu juga buat akhiran kayak "-kan" dan "-nya". Ini kebentuk sendiri seiring latihan, tapi bisa dipercepat dengan sengaja latihan kata yang sering dipakai, bukan huruf acak.
Yang ketiga, ritme. Kebanyakan orang ngetik meledak-ledak terus berhenti di tiap batas kata. Tempo yang rata terukur lebih cepat daripada pola ngebut-lalu-berhenti, walaupun bagian ngebutnya beneran kenceng — soalnya waktunya habis di jedanya.
Latihan yang bener itu latihan apa
Latihan huruf acak itu oke buat pemanasan dan jelek buat naik level, soalnya latihannya kesebar rata ke semua pasangan huruf — termasuk yang udah kamu ketik sempurna. Sebagian besar kesalahanmu itu numpuk di segelintir perpindahan tertentu, dan kemungkinan kamu udah tahu jari mana yang terlibat.
Jalan yang lebih cepat: temuin pasangan huruf yang bikin kamu keseleo, terus latih itu doang. Ngetik semenit, catat kata mana yang bikin kepeleset, terus ketik kata-kata itu dua puluh kali masing-masing. Membosankan, dan berhasil — dan itu berlaku buat hampir semua latihan yang berhasil.
Yang nggak ngebantu
Ganti tata letak keyboard. Dvorak dan Colemak punya kelebihan teoretis yang nyata, tapi hasil penelitian pada orang yang udah terlatih itu nggak meyakinkan — berbulan-bulan jadi lambat jarang kebayar buat orang yang belum mentok banget.
Beli keyboard mekanik. Lebih enak dipakai, iya. Lebih cepat? Nggak, lewat minggu pertama. Begitu juga soal jenis switch, yang bisa diperdebatin panjang lebar tanpa satu pun kelihatan di skor.
Terakhir: kondisi tes lebih ngaruh dari yang orang mau akui. Rekor kamu itu bukan kecepatan kamu. Rata-rata dari sepuluh sesi itu kecepatan kamu, dan biasanya sepuluh sampai lima belas persen lebih rendah dari angka yang kamu inget.